Monday, October 4, 2010

Human Error? Tunggu Dulu..!!!!

Kawan-kawan tentu telah mendengar berita duka tentang kecelakaan kereta api yang terjadi hari Sabtu, 2 Oktober 2010 lalu. Kecelakaan tersebut melibatkan KA ArgoBromo Anggrek tujuan Surabaya dan KA Senja Utama tujuan Semarang.  Puluhan orang meninggal dan luka-luka akibat kecelakaan tersebut. Duka citaku yang mendalam bagi keluarga korban.

Dugaan utama penyebab kecelakaan adalah human error. Masinis dianggap lalai dalam melakukan tugasnya. M Halik Rudianto, masinis KA ArgoBromo Anggrek, dalam pemeriksaan mengaku sempat tertidur saat menjelang kecelakaan. Sang masinis pun akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.


Di sini, aku tidak menyinggung tentang detail kecelakaan. Aku juga tidak menghitung momentum yang terjadi akibat tumbukan ala soal2 SPMB. Aku cuma pengen nulis dikit tentang human error.

Secara sederhana, human error dapat diartikan sebagai ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan oleh sistem, apa yang dimaksudkan oleh pekerja, dan apa yang dikerjakan oleh pekerja tersebut. 

Terminologi human error sangat sering diartikan sebagai kesalahan pekerja semata. Yang paling menyakitkan, berdasarkan pandangan saya yang mungkin saja sangat subjektif, terminologi human error sering kali dijadikan alasan oleh pihak manajemen untuk mengelak dari kesalahan/ kecelakaan kerja yang terjadi. Kemudian, pihak manajemen melimpahkan tanggung jawab kepada orang-orang di lapangan yang biasanya adalah ‘pekerja kelas bawah’.

Menurut kitab Tatang Sutarna (^_^), human error is not a cause of failure, it’s a symptom of deeper trouble. Selain murni karena kesalahan pekerja, human error lebih sering dipicu oleh sistem yang tidak dirancang dengan baik. 

Pada kasus kecelakaan kereta api di atas, kecelakaan disebabkan oleh human error, di mana masinis kereta api mengantuk ketika sedang menjalankan tugasnya. Sekilas hal ini dapat dibenarkan. Tetapi, apakah memang demikian?

Pada Harian Kompas terbitan 3 Oktober 2010, dituliskan bahwa pada lokomotif terdapat sebuah alat bernama deadman pedal.  Pedal ini diinjak dan diangkat masinis secara periodik selama kereta api beroperasi. Jika proses injak dan angkat itu tidak dilakukan, alarm akan berbunyi dan lokomotif akan berhenti. Masih dari sumber yang sama, seharusnya masinis (KA Argo Bromo Anggrek) diganti di Pekalongan pada pukul 01.00 WIB. Namun masinis ternyata tidak diganti sampai kecelakaan akhirnya terjadi.

Dari kondisi di atas, dapat kita lihat bahwa kesalahan tidak bisa hanya dibebankan kepada masinis. Boleh jadi sistem perawatan kereta api yang bobrok. Bagaimana dengan penjadwalan kerja para masinis? Sudahkah mempertimbangkan beban kerja yang dapat ditoleransi oleh manusia? Setahu saya, sudah banyak metoda penghitungan beban kerja yang bisa dipergunakan. PT KAI tidak tau menggunakannya? Gampang saja, tinggal datang ke jurusan teknik industri dan bikin open recruitment. Hehe, kok malah promosi ya ….? Satu poin penting yang harus dicatat adalah kesalahan/kecelakaan kerja yang dilakukan oleh pekerja adalah indikator bahwa sistem masih memiliki kekurangan dan harus diperbaiki.

Yang jelas, bagiku, pernyataan prematur bahwa human error sebagai penyebab kecelakaan kerja adalah sebuah ironi. ironi sekaligus cermin kekerdilan jiwa para petinggi. Mudah-mudahan aku, kita semua, tidak akan melakukannya entah itu lima, sepuluh, atau puluhan tahun lagi….

Referensi:
Managing Human Error. Occupational Health And Safety Agency For Healthcare in BC (OHSAH)
Human Error and Systems Theories. Elizabeth Flynn, PhD. Center for Pharmacy Operations & Designs Auburn University

0 komentar:

Post a Comment